Khotbah, Minggu 17 Februari 2013

Pembacaan            :  Lukas 23 : 33 – 43

Tema                       :  Engkau Bersama Aku di Firdaus

 Pdt. Samuel Pandie

Sdr/i…….

Saya memulai khotbah ini dengan mengangkat berbagai kenyataan yang terjadi di sekitar kita :

Pernahkah saudara memperhatikan orang makan di warung atau di pesta ? kadang saya lihat banyak hal yang agaak aneh. Ada orang yang waktu makan di warung suka meninggalkan sisa makanan. Biar makanan enak bagaimanapun, mahal dan dalam kondisi lapar. Katanya gengsi, nanti orang bilang perakus. Saya kadang pikir-pikir sonde rugi ko, sonde menyesal ko ? karena terus terang saja di rumah kita makan kosong tapi di luar gaya minta ampun, padahal beli dengan uang sendiri, tidak ada yang marah juga tapi ya demi gengsi.

Atau di tempat pesta, daging banyak, sayur macam-macam, waktu bagi makan sedikit, tidak apa-apa juga tapi yang jadi soal, kita sama-sama tahu, di rumah makan biasanya apa adanya dan makan dengan cepat tapi waktu di pesta, makan lama, bibir di atur, sedikit-sedikit ambil tisu lap bibir. Jawabannya sama, gengsi, nanti orang bilang apa.

Ya, kadang kita lebih banyak tidak menjadi diri sendiri, demi gengsi kita menahan lapar, menyembunyikan keadaan, setelah sampai di rumah baru menyesal setengah mati. Atau dengan kata lain kita suka ikut-ikutan.

      Waktu kuliah ada teman saya dari amfoang, suatu waktu, ia pimpin demo karena makanan asrama katanya tidak layak. Kangkung di potong panjang-panjang, beras pecah-pecah. Berdemo untuk merubah perhatian fakultas tidak soal, tapi yang jadi soal ketika membuat pernyataan : saya di rumah tidak makan seperti ini, ini datang di asrama atau di kandang babi. Satu tahun kemudian kami turun praktek (orientasi pedesaan) saya dapat di amfoang kebetulan di kampong teman saya. Betapa terkejutnya saya melihat kesusahan orang tuanya, makan susah, pakaian yang ada hanya di badan, jauhlah dari hidup sehat. Melihat kondisi ini, saya hanya berkata dalam hati : kasihan e, dulu dia demo makanan, kenyataannya di rumah makan saja sulit.

Ya terkadang kita menipu keadaan diri kita sendiri, gampang mengeluarkan kata-kata padahal kita sendiri juga kosong. Mungkin sampai kota jadi kita mau menunjukkan identitas diri kita, paling kurang kita terkenal. Sesungguhnya itu juga ikut-ikutan.

      Ada juga cerita lain, entah betul atau tidak. Katanya waktu naik bis ada orang timor makan jagung, lalu datanglah si to’o rote. Bilang makan apa ni. Orang timor bilang jagung, wah di rote, jagung biasa batong kasih makan babi. Orang timor jengkel tapi dia tetap makan. Tidak lama kemudian karena oto jalan agak ngebut, si to’o rote mabuk lalu muntah. Sialnya waktu muntah yang lari keluar jagung. Spontan saja si orang timor bilang we, sapa pung babi yang muntah tu.

Mohon maaf, saya tidak bermaksud mencela siapa-siapa. Tapi maksud saya sederhana : terkadang kita suka menipu diri, menyembunyikan keadaan kita, supaya orang bilang kita hebat padahal kita sama saja. Terkadang memang kita harus belajar dari penyu, kea yang orang bilang bodoh. Tapi waktu bertelur diam-diam dan hasilnya banyak telur. Berbeda dengan si ayam, waktu bertelur berteriak besar tapi hasil telurnya sedikit.

Sdr/i…….

Semua cerita dan kenyataan itu mengarahkan pada salah seorang penjahat yang ada di sebelah Yesus. Sama-sama di salibkan, sama-sama di pukul, sama-sama berdarah, sama-sama di hina. Singkatnya sama-sama susah. Dalam keadaan  itu dia bukannya melihat dirinya, siap ,menanti maut, malah dalam kesesahan itu, ia pakai untuk menghina orang lain. Dan yang di hina Yesus.

Kita tidak tahu seberapa dekat Ia mengenal Yesus, kita tidak tahu apakah dia tahu kejahatan apa yang Yesus buat. Yang kita tahu adalah dia melihat Yesus sama seperti dirinya. Salib itu tanda bahwa bagi dia Yesus penjahat, melawan penguasa dan juga di hokum.

Lalu kenapa penjahat itu mengejek Yesus ? kalau kita baca, sebelum ia menghujat Yesus, hujatan yang sama datang dari pemimpin-pemimpin agama dan para prajurit. Yang isi hujatannya sama : orang lain Ia selamatkan, tapi dirinya sendiri tidak bisa ia selamatkan. Tanpa tahu, tanpa pikir, dalam kondisi susah, ia tidak saring kata-kata itu lalu dengan berani ia juga ikut-ikutan : kalau Engkau Kristus selamatkan dirimu dan kami. Dalam profesi sebagai penjahat, ia mungkin pernah dengar tentang Yesus, ia mungkin pernah melihat mujizat-mujizat besar yang di buat Yesus tapi pendengaran dan penglihatannya sekejap di butakan oleh pandangan orang lain. Tanpa berpikir panjang, tanpa melihat kondisi diri yang sedang susah dan menanti mati, ia berani menghujat Allah.

Tahukah saudara bahwa pandangan dan prinsip kita bisa berubah dalam sekejap ketika kita di pengaruhi orang lain, cara melihat kita tiba-tiba berubah kepada seseorang hanya karena kita menerima secara bulat-bulat kata-kata orang lain dan ini sering terjadi dalam hidup kita.

Berbeda jauh dengan penjahat yang lain, ketika ia mendengar hujatan orang lain terhadap Yesus, yang pertama ia buat bukan menerima secara bulat. Ia merenungkan kata-kata itu, ia tidak menerima dan mentransfer data itu bulat-bulat. Ia tetap melihat kondisi dirinya sebagai penjahat dan salib kematian yang harus ia jalani. Dalam pikiran yang fokus itu, ia menegur temannya, sobat kita ini penjahat, kita di hokum karena kejahatan kita tapi orang ini di hokum tanpa kejahatan apapun. Dengan kata lain ia mau bilang : tolong fokuslah pada dirimu, pada penderitaanmu, pada salib maut ini, jangan cepat-cepat menghujat karena kita sama tahu bahwa Yesus ini orang benar, jangan terima sesuatu bulat-bulat, saring dulu, jangan terburu-buru percaya.

Saudara tahu, dengan prinsip demikian, ketika ia bilang Yesus ingatlah aku, kalau Engkau datang sebagai Raja. Secara spontan, tanpa basa-basi Yesus pun menjawab : hari ini juga engkau bersama-sam dengan Aku di dalam firdaus.

Kita terkejut dengan kata-kata Yesus ini, bukan saja karena  Ia menerima penjahat ini, tapi karena Yesus mengatakan engkau bersama Aku di dalam firdaus. Dalam hampir semua pemberitaan Yesus selama Ia memperkenalkan diriNya, tidak pernah Ia bicara tentang firdaus. Lebih banyak Ia bicara tentang kerajaan sorga, tentang kehidupan di masa depan. Baru terhadap penjahat inilah Yesus menyebut firdaus. Ada apa dengan firdaus ? dan kenapa kepada penjahat itu Yesus mengatakan hal yang sama sekali berbeda yaitu tentang firdaus ?

Kalau bicara tentang firdaus bukankah pikiran kita cepat tertuju kepada Adam dan hawa. Yang di beri kewenangan besar, kekuasaan sempurna kecuali pohon yang ada di tengah taman tidak boleh mereka makan buahnya sebab mereka akan mati. Lalu pernahkan saudara bertanya kenapa salib di bukit tengkorak itu hanya tiga, lalu kenapa salib Yesus ada di tengah-tengah? Bukankah firdaus dalam kisah adam dan hawa adalah firdaus yang rusak karena adam dan hawa mentransfer bulat-bulat data dari si ular, mereka cepat percaya oleh bujuk rayu si ular, mereka termakan oleh kata-kata si ular mengambil buah dari pohon yang ada di tengah taman dan dalam sekejap mengubah cara pandang mereka terhadap Allah?

Di bukit tengkorak kisah firdaus terulang lagi, ketika ada manusia yang berdosa mencoba menyamakan dirinya dengan Yesus. Bukankah itu juga yang di buat Adam dan hawa untuk sama seperti Allah. Di bukit tengkorak ada penjahat (gambaran manusia berdosa) yang merubah persepsi terhadap Yesus ketika mendengar hujatan orang lain dan ia pun ikut-ikutan menghujat. Namun ada yang membedakan antara kisah firdaus dan bukit tengkorak. Di firdaus, Allah berdiam diri ketika adam dan hawa mengambil buah dari pohon yang ada di tengah taman, di firdaus Allah menjumpai adam dan hawa dalam keadaan telanjang. Di bukit tengkorak Allah juga berdiam diri, Allah membiarkan manusia bebas menilai dan memilih namun yang unik, di bukit tengkorak masih ada manusia lain yang membela Allah, masih ada manusia lain yang mengingatkan agar jangan menyamakan diri dengan Allah, dibukit tengkorak Allah menjumpai manusia yang telanjang karena dosa kebodohan dan serentak dengan itu juga Allah mendapati manusia yang sadar yang tidak perlu di telanjangi dosa.

Kisah 2 penjahat mengingatkan kita agar kita mampu memilih dan memilah. Kisah 2 penjahat membuktikan bahwa Allah bisa menaklukkan kuasa setan yang di warisi sejak firdaus, kisah 2 penjahat mengingatkan kita bahwa siapa yang tahu batas dirinya, siapa yang berpegang teguh pada prinsip iman, siapa yang tidak gampang terprovokasi, siapa yang tidak ikut-ikutan akan menemukan kembali firdaus yang hilang.

Hari ini engkau bersama Aku di dalam firdaus, sekarang, saat ini ketika kita memilih Yesus, walaupun Ia tersalib tapi kuasaaNya tidak bisa di batasi oleh salib, sekalipun Ia berdiam diri, Ia tetap yang Maha Kuasa. Ketika kita berdiam diri, menatap kepada Yesus, ketika kita mengakui Dia sebagai Tuhan, firdaus yang hilang itu akan kita temukan kembali.

Saya mengakhiri khotbah ini dengan mengingatkan sdr/i bahwa saudara dan saya adalah orang-orang yang telh di usir dari taman eden, saudara dan saya hidup dalam penderitaan salib, namun firdaus itu bisa kita temukan kembali ketika kita memilih Yesus untuk bersama-sama menaklukkan si iblis eden yang jahat itu, hidup kita adalah pilihan dan pilihan terbaik bagi kita adalah menemukan kembali firdaus yang hilang. Hari ini engkau bersama-sama dengan Aku dalam firdaus, kalau kita lama menanti, firdaus yang sempurna, yang perwujudannya masih dalam sebuah proses maka percayalah juga bahwa suasana firdaus yang indah ituakan saudara alami dalam kehidupan saudara/i. Amin.