Khotbah Sabtu 15 September 2012 ’2 SAMUEL 9 :1-13′

NP                   : TITUS 1 : 2

TEMA             : Perjanjian Dengan Tuhan

Sdr/i…….

Sepakat ataupun tidak, menurut saya orang timor sangat menjunjung tinggi sebuah perjanjian. Entah perjanjian itu secara formal  melalui okomama maupun perjanjian yang diucapkan saja. Hal ini makin menguatkan saya karena dalam berbagai pelayanan doa, serasa belum lengkap jika belum menyampaikan beban dan lebih banyak berisi mengabaikan apa yang dijanjikan.

Karena itu tolong diingat kembali apa yang pernah kita janjikan kepada sesama terlebih kepada Tuhan, berapa yang sudah kita tuntaskan dan berapa yang masih hutang. Sebab sekali kita berjanji maka kita dituntut menggenapinya.

Untuk lebih jelasnya tentang penggenapan terhadap sebuah janji maka marilah kita belajar dari Daud. Kita tahu bahwa roda kehidupan Daud tengah berada di atas. Ia baru saja di kokohkan menjadi raja. Tercatat setelah mejadi raja, Daud segera melakukan beberapa reformasi yaitu :  menjadikan Yerusalem sebagai pusat pemerintahan dan kerohanian,

menaklukan musuh Israel dan menciptakan rasa aman, memindahkan tabut ke Yerusalem dan memproritaskan apa yang telah menjadi perjanjian dengan Yonathan (1 Sam. 20: 14-15) dimana Yonathan pernah meminta untuk Daud menunjukkan kasih setia kepada keluarganya.

Yonathan memang sudah mati, namun perjanjiannya dengan Daud tidak binasa. Sebenarnya dipikir-pikir daud bisa saja mengelak dari janjinya sebab bukankah janji itu diucapkan ketika mereka masih muda ? bukan menjadi rahassia lagi, katanya perjanjian orang muda adalah janji palsu – kalau menyangkut cinta disebut cinta monyet. Bukankah juga turunan Yonathan berasal dari saul yang kejam dan tidak berbelas kasihan, untuk apa mengingati keluarganya, bukankah ini adalah kesempatan untuk membalas. Untuk apa repot-repot, masih banyak urusan Negara yang butuh perhatian dari pada sekadar janji.

Namun disinilah soalnya, bagi Daud perjanjian bukanlah hal sepele. Kita boleh mengingkari janji dengan Tuhan ketika mengaku melayani selanjutnya kita bermalas-malasan, kita boleh menganggap perjanjian kita tidak bermakna tapi jangan jika di ukur dengan Daud. Kita bisa dengan mudah karena emosi dalam rumah tangga mengatakan cerai saja atau kita tidak mampu melihat kelakuan suami/istri yang menyakitkan, tapi jangan lupakan kata perjanjian itu.

Para orang tua ddapat saja kecewa dengan anak-anak yang hanya menghabiskan uang, malas  dan selalu membuat onar. Namun janga lupa kata perjanjian itu.

Sdr/i…….

Perjanjian itu harus digenapi, untuk bisa menggenapinya dipanggillah siba, mantan pembantu saul. Kita mendapatkan jawaban siba terhadap pertanyaan Daud; masih adakah anak Yonathan yang hidup. Siba memberi jawab : masih ada, yang cacat kakiya. Siba tidak menyebut nama malah kondisi yang memprihatinkan, seolah siba ikut mencobai Daud agar melepaskan perjanjian itu. Bukankah dia adalah si cacat. Apa gunanya berurusan dengan orang seperti itu. Dia bukan sekedar cacat karena mengingat kisah hidup mefiboset sungguh memprihatinkan. Saat berumur 5 tahun, ayah dan kakeknya tewas di tangan filistin, mefiboset terjatuh dari gendongan pengasuh pada waktu mereka menghindari kebrutalan orang filistin dan ia tinggal di lodebar, di tanah yang tandus karena dalam bahasa Ibrani lodebar berarti tanpa padang rumput.

Tapi daud tetap peduli, ia meminta agar mefiboset di jemput ke istana dan mendapatkan kembali harta kekayaan Saul. Kepedulian yang luar biasa dan tulus. Kalau tidak mau repot cukup sekali makan, setelah itu berilah uang recehaan, setelah itu ia akan pergi dengan sukacita.

Perjanjian daud digenapi dengan harta dan memberi tempat bagi mefiboset agar menikmat hidangan nersama keluarga raja.

Daud memang komitmen dengan janjinya, sebab 15 tahun kemudian Absalom memberontak, daud mengungsi. Dijalan ia bertemu ziba, hamba mefiboset yang mengatakan mefiboset berpihak pada Absalom, tapi setelah daud kembali ke istana justru mefiboset yang menyambut dan mengatakan bahwaa ziba yang menipunya. Daud tidak peduli, ia tidak menghukum mefiboset. Ia tidak mau menyelidiki sedemikian jauh. Bagi daud penghianatan bukan alasan menggagalkan perjanjian. Pertanyaan mendasar mengapa daud tidak sejengkalpun bergeser dari perjanjiannya. Ini jawabnya karena daud menyadari bahwa apa yang ia janjikan didengar oleh Allah sehingga daud sebenarnya dalam menjaga perjanjian itu mau memperkenalkan Allah sebagai Allah yang memegang teguh janjiNya.

Sdr/i…….

Melalui Alkitab kita mencatat bahwa Allah juga membuat janji dengan manusia. Kepada Nuh, Ia berjanji tak akan menghukum manusia dengan air bah lagi dan tandanya adalah pelangi. Perjanjian ini di genapi sebab air bah pasti menghancurkan manusia. Kepada Abraham, Allah berjanji bahwa keturunannya tak terhitung seperti bintang di langit.

Janjinya di genapi, turunan Abraham tak terhitung dan menjadi berkat bagi bangsa-bangsa. Tak terhitung kebaikan Allah dan semua yang dikatakan Allah selalu ditepatiNya.

Dan apa yang di alami mefiboset mengingatkan kita seperti yang di buat Allah. Mefiboset; terllahir sebagai pewaris tahta yang sah, menjadi korban kejatuhan, menjadi cacat cela dan harus tinggal di tanah yang kering, hidupp dalm ancaman pembunuhan. Ketika Daud menggenapi janjinya, kita diingatkan bahwa kita juga adalah anakk raja, kita terjatuh karena dosa adam dan hawa, kehidupan kita seperti di tanah tandus Lodaber dan dimana-mana kita saling mengancam. Kondisi ini menjadi lain, kita terbebas ketika Allah menggenapi janjiNya melalui Yesus, Ia menyelamatkan kita. Apa yang Ia dapat dari kita ? tidak ada, kecuali karena perjanjianNya. Bahkan kini Ia menanti kita agar sekali waktu dapat duduk satu meja dalam hidup yang kekal.

Demikianlah karena perjanjian itu kita belajar untuk tidak membenci sekalipun kita tersakiti, tidak membalas sekalipun kta di pukul, tidak menyakiti sekalipun itu wajar karena kita tahu sedang membangun perjanjian di dalam rumah kita, di dalam gereja kita dan perjanjian bersama Allah. Kita tahu Allah berjaga-jaga diantara kita, Tuhan punya cara agar kita tidak lupa terhadap perjanjian yang telah kita buat, jangan kita menggaantikan Allah menghakimi karena itu adalah hakNya.

Apa perjanjian kita dengan Tuhan, sudahkah kita memegang teguh itu dan menggenapinya. Ketika hari ini orang tua dan saksi membawa anak-anak mereka maka, mereka sedang membawa sejumlah masa depan dan generasi gereja. Kita tidak saja membawa anak-anak untuk dibaptis menjadi milik Allah tapi kita sedang mengikat perjanjian dengan Allah. Perjanjian apa ? ada perjanjian yng indah agar anak-anak ini dapat terus mencerminkan apa yang dikehendaki Tuhan. Kita bertanggung jawab agar terus menerus mengajarkan dan memberi teladan agar anak-anak kita makin hari makin mengerti dan melanjutkan generasi iman agar nama Tuhan tak pernah berhenti dimuliakan. Perjanjiann ini teguh jika kita melibatkan Tuhan sehingga ia menuntun kita daan tanpa ragu kita bersukacita mengikat perjanjian yang teguh denganNya. Amin.

Pdt. samuel pandie