Sejarah Berdiri

SEJARAH LAHIRNYA JEMAAT “BENYAMIN”
GEREJA MASEHI INJILI DI TIMOR (GMIT)
KLASIS KUPANG TENGAH
(PERIODE: 16 APRIL 1994 s/d 21 AGUSTUS 2004)

I. PENDAHULUAN

Hidup dalam perbedaan antara kelompok masyarakat maupun antara anggota jemaat merupakan konsekuensi logis dari hidup bermasyarakat seperti halnya dikompleks Am nuban yang merupakan kompleks konsentrasi masyarakat berasal dari berbagai daerah dan suku serta bahasa.
Kerukunan antar umat beragama teristimewa antara anggota jemaat GMIT, adalah harapan dan dambaan setiap orang termasuk jemaat protestan di Kelurahan Oebufu.
Hidup bersekutu dalam satu iman dapat terjalin dalam bentuk satu gereja, hanya oleh orang-orang yang merasa terpanggil untuk bersekutu. Panggilan itu berbentuk dua perbuatan yaitu:
Pertama
:
Perbuatan untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan sebagai warga masyarakat dan
Kedua
:
Untuk mewujudkan persekutuan sebagai warga gereja
Dengan tetap menghormati identitas masing-masing warga GMIT disertai oleh kesadaran terhadap panggilan untuk bersekutu, sejumlah warga GMIT dan tokoh masyarakat Kristen Am nuban dan Tuak Daun Merah (TDM) mengadakan pendekatan bersama untuk merencanakan dan mengusulkan pemekaran jemaat kepada jemaat Maranatha Oebufu. Upaya-upaya ini bertujuan agar mendekatkan pelayanan terhadap warga GMIT yang belum terlayani secara baik.
Dari hasil pendekatan dan tujuan di atas serta berdasarkan tugas dan panggilan gereja yang tidak pernah berubah disemua tempat dan dalam segala zaman maka berdirilah Jemaat Benyamin di Oebufu.

II. RANGKAIAN KEGIATAN MENUJU KELAHIRAN JEMAAT BENYAMIN

1. Rapat Awal.
Keyakinan bahwa Tuhan pasti dan selalu  hadir di tengah anak-anak ciptaan-Nya, sekelompok tokoh jemaat GMIT termotifasi untuk bergumul dan merumuskan langkah-langkah awal untuk mentuntasi embrio Benyamin. Pada tanggal 16 April 1994 bertempat di rumah Bpk. Manase Benyamin Leoanak, diadakan pertemuan perdana untuk membentuk sebuah Badan Perintis Pembukaan Jemaat Cabang dari GMIT Maranatha Oebufu.
Komposisi Badan Perintis adalah sebagai berikut:
1. Bpk. Manase B. Leoanak     (alm)
2. Bpk. Stefanus B. Adoe
3. Bpk. Yunius Sinlae
4. Bpk. Paulus A. Manafe
5. Bpk. Herman Nuban
6. Bpk. Marthen Tameno
7. Bpk. Dan Koanak
8. Bpk. Jefnes Leoanak
9. Bpk. Drs. Nico Umbu Dondu
10. Bpk. Adrianus Henuk         (alm)
11. Bpk. Frans Henuk
12. Bpk. Nurce Sombu.
Badan Perintis tersebut diserahi tugas untuk menyusun surat permohonan pembukaan gereja cabang sekaligus mengantarnya kepada Ketua Majelis Jemaat Maranatha Oebufu.
Tanggal, 17 April 1994 Badan Perintis yang terdiri dari 8 (delapan) orang yakni: Bpk. M. B. Leoanak, Bpk. Stefanus B. Adoe, Bpk. Yunius Sinlae, Bpk. Frans Henuk, Bpk. Jefnes Leoanak, Bpk. Adrianus Henuk, Bpk. Nurce Sombu dan Bpk. Drs. N. Umbu Dondu, menemui Ketua Majelis Jemaat Maranatha untuk menyerahkan surat permohonan dan mohon doa restu dalam rangka ingin membuka cabang GMIT Maranatha.
Surat tanggal, 17 April 1994 nomor: 01/CGBO/IV/1994 (lampiran 1). Adapun tanggapan Ketua Majelis Jemaat Maranatha adalah sebagai berikut: meminta kesediaan kelompok untuk bersabar karena niat baik tersebut akan dibawakan dalam rapat lengkap dengan Majelis Jemaat Maranatha.

2. Pembentukan Panitia Pembangunan
Badan Perintis bersama beberapa tokoh Jemaat mengadakan rapat pada tanggal, 18 April 1994 untuk membentuk panitia pembangunan gedung gereja darurat dengan komposisi sebagai berikut:
1. Penasehat         : Bpk. Manase B. Leoanak
2. Ketua Umum         : Bpk. Stefanus B. Adoe
3. Ketua Pelaksana     : Bpk. Drs. Nico Umbu Dondu
4. Sekretaris I         : Bpk. John W. Haan, MA
5. Sekretaris II         : Bpk. Drs. Simson Fina
6. Bendahara         : Ny. Agustina Nuban-Henuk
7. Seksi-seksi:
7.1. Seksi Usaha Dana     :
- Bpk. S. Nitbani
- Bpk. N. Nope
- Bpk. Piet Mauboy
- Bpk. F. Taloen
- Bpk. L. Olang
- Ny. I. Umbu Dondu-Manafe
7.2. Perencana dan Pembagunan Fisik:
- Bpk. Adrianus Henuk
- Bpk. Frans Henuk
- Bpk. Diky Manafe
- Bpk. N. Kolly
7.3. Perlengkapan/Transportasi:
- Bpk. S. Kase
- Bpk. A. Koa
- Bpk. N. Sombu
7.4. Pengerakan massa:
- Bpk. Herman Nuban
- Bpk. Yunius Sinlae
- Bpk. Marthen Tameno
- Bpk. Y. Mihabalo
- Bpk. Yunus Elik
- Bpk. I. Finit
- Bpk. S. Selan
- Bpk. O. Olang
3. Rapat Panitia Pembagunan Perdana (gedung darurat) dilaksanakan pada tanggal 19 April 1994 untuk menyusun Rencana Kerja sekaligus mengadakan pengumpulan bahan bangunan

4. Nama Kelompok.
“apa arti sebuah nama”, sebuah ungkapan pertanyaan yang sering terkesan sepele, namun ternyata sebuah nama mempunyai arti yang sangat penting bagi suatu unsur. Nama dapat mencerminkan sifat dan unsur tersebut di samping sebuah identitas. Lewat doa dan pergumulan maka lahirlah nama kelompok ini yakni: “BENYAMIN” atau dalam Alkitab “Ben Oni”.

5. Pembagunan Gedung Darurat.
Ibadah suatu umat kepada Tuhan dapat dilakukan disegala tempat pada segala waktu, namun sarana gedung kebaktian merupakan prasyarat pembentukan sebuah jemaat. Panitia pembagunan bersama calon anggota jemaat Benyamin dengan semangat persekutuan telah memperoleh sebidang tanah seluas 1200 m2 dihibahkan oleh Bpk. M. B. Leoanak selaku tokoh/perintis berdirinya Jemaat Benyamin Oebufu. Tanah tersebut berlokasi di Jalan Rukun No. 1 Desa Oebufu, Kecamatan Kupang Kabupaten Kupang. Lokasi tersebut dibersihkan pada tanggal 22 April 1994 dan tepatnya pada tanggal 23 April 1994, mulai dibangun sebuah bangunan darurat berukuran 21 x 7 m2 dengan menelan biaya Rp. 13.000.000,-. Oleh karena gedung darurat tersebut tidak mampu lagi menampung anggota jemaat pada setiap hari minggu, maka pada pertengahan tahun 1995 dibangun tambah 4 x 7 m2 sehingga luas gedung menjadi 25 x 7 m2.
Kondisi ini bertahan sampai pengresmian gedung yang permanent, bahkan dipakai sebagai gedung TK Benyamin.
Kehadiran gedung darurat tersebut mengundang banyak tantangan dari pihak-pihak yang kurang setuju yakni:
1. Ketua Klasis Kupang Tengah melarang tidak boleh melanjutkan pembangunan gedung darurat tersebut walaupun telah rampung 90%, tinggal menggantung daun pintu.
2. Ketua Majelis Jemaat Maranatha bersama beberapa anggota Majelis Harian tanggal 26 Mei 1994 berkunjung ke Bpk. M. B. Leoanak agar meminta sertifikat tanah tersebut namun gagal, oleh karena menurut Bpk. M. B. Leoanak bahwa tanah tersebut diserahkan kepada Jemaat Benyamin bukan kepada Jemaat Maranatha.
3. Ketua Majelis Jemaat Maranatha mengirim surat tanggal, 24 Agustus 1994 no. 54/GMIT/V/H/1994 tentang larangan melaksanakan Kebaktian Kunci Usbu dan Minggu. (lampiran 7)
4. Ketua Majelis Jemaat Maranatha mengirim surat, tanggal 28 Agustus 1994  tentang Teguran untuk tidak melaksanakan kegiatan-kegiatan gerejawi yang tidak syah. (lampiran 10)
5. Kepala kantor Sospol Kabupaten Kupang surat no. 1620/IV/A/SOSPOL/KPG/94 tentang undangan dalam rangka menanggapi surat Ketua Majelis Jemaat Maranatha di atas. (lampiran 13)
6. Ketua Majelis Jemaat Maranatha, no. 63/GMIT/V/H/1994, tanggal 07 September 1994 tentang tanggapan surat Sdr. St. B. Adoe. (lampiran 14)
7. Ketua Majelis Jemaat Maranatha, no. 55/GMIT//H/1994 yang ditujukan kepada Kakanwil Depdikbud Propinsi NTT tentang mohon pembinaan terhadap Sdr. St. B. Adoe. (lampiran 8)
8. Surat Klasis Kupang Tengah no. 155/GMIT/IV/94 tanggal 09 September 1994 tentang Cabang gereja Maranatha Oebufu. (lampiran 15)
9. Ketua MSH GMIT no. 946/GMIT/I/A/94 tentang larangan kegiatan pelayanan. (lampiran 17)
10. Kepala Desa Oebufu no. B-707/Pem.041/DO/IX/94 tanggal 23 September 1994 tentang instruksi untuk hentikan kegiatan-kegiatan keagamaan yang tidak syah dalam Desa Oebufu. (lampiran 18)
11. Ketua MSH GMIT no. 146/GMIT/I/H/1995 tanggal 09 Mei 1995 tentang penolakan laporan kegiatan gereja Benyamin. (lampiran 21)

III. LAHIRNYA JEMAAT BENYAMIN DAN PERKEMBANGAN
1. KELAHIRAN.
Semua tantangan di atas merupakan pupuk yang berharga sehingga pada tanggal 20 Agustus 1994, secara resmi 81 KK bersama 645 jiwa membuat pernyataan keluar dari keanggotaan Jemaat Maranatha. (lampiran 6)
Selanjutnya pada hari/tanggal, Minggu 21 Agustus 1994 diadakan Kebaktian Umum yang perdana dan dipimpin oleh Penatua Stefanus B. Adoe sekaligus secara resmi dinyatakan sebagai hari lahirnya Jemaat Benyamin Oebufu.

2. JEMAAT BENYAMIN DALAM PERKEMBANGANNYA.
a. Laksana seorang bayi, Jemaat Benyamin membutuhkan pengasuh/pengatur, maka pada tanggal 27 Agustus 1994, anggota Majelis Jemaat yang diperhadapkan sebanyak 8 (delapan) orang yakni:
- Bpk. Stefanus B. Adoe
- Bpk. Yunius Sinlae
- Bpk. Herman Nuban
- Bpk. Marthen Tameno
- Bpk. Drs. N. Umbu Dondu
- Bpk. Drs. Simson Fina
- Bpk. Nurce Sombu
- Bpk. M. Selan

b. Badan Pengurus/Penangung Jawab Pelayanan sbb:
- Pelindung/Penasehat
:
1. Bpk. P. A. Manafe
2. Bpk. M. B. Leoanak
3. Bpk. Dan Koanak
- Penanggung Jawab
:
1. Bpk. Stefanus B. Adoe
2. Bpk. Herman Nuban
3. Bpk. Yunius Sinlae
4. Bpk. N. Umbu Dondu
- Sekretaris
:
1. Bpk. John W. Haan, MA
2. Bpk. Drs. Simson Fina
- Bendahara
:
1. Ny. A. Nuban-Henuk
2. Ny. I. Dondu-Manafe
- Anggota

1. Bpk. Marthen Tameno
2. Bpk. Nurce Sombu
3. Bpk. S. Nitbani
c. Pelayanan Jemaat diatur dengan sistim rayon terdiri atas 3 (tiga) rayon yakni Rayon Amanuban, rayon Terminal II dan rayon Tuak Daun Merah, selanjutnya tahun 1995 berkembang menjai 7 (tujuh) rayon dan hingga kini menjadi 9 (sembilan) rayon.

d. Waktu terus bergulir melintasi hari, minggu dan bulan pelayanan semakin berkembang sehingga kebutuhan akan komisi-komisi mutlak diperlukan. Oleh karena itu dalam bulan November 1994 dibentuklah komisi Pemuda, Wanita GMIT dan KAKR.

e. Pelayanan Sakramen.
Pelayanan sakramen dilaksanakan oleh Bpk. I. Lakamal, MA, Ketua Majelis Jemaat Sion Oepura, sedangkan kegiatan rutin ditangani oleh Penanggungjawab dan kawan-kawan sekerja.

f. Pelayanan sakramen Perdana dilaksanakan pada:
1) Peneguhan Sidi tanggal 23 Maret 1997
2) Perjamuan Kudus tanggal 29 Maret 1997
3) Baptisan Kudus tanggal 31 Maret 1997

3. PENGAKUAN DAN PENEMPATAN PENDETA DEFENITIF
a. Pengakuan.
Hari-hari berlalu, suasana mendung dan cerah silih berganti menghiasi langkah pelayanan, namun dengan pertolongan Tuhan maka egonya manusia dapat sirna dengan Kasih Allah, sehingga jemaat balita ini terus melangkah maju.
Berdasarkan Surat Keputusan MSH GMIT nomor: 014/SK/MS-GMIT/1996, tanggal 11 Desember 1996 tentang Pengakuan berdirinya Jemaat Benyamin sebagai Jemaat Dewasa. Maka pada tanggal 22 Desember 1996 melalui suatu kebaktian khusus, yang dihadiri oleh:
- Ketua MSH GMIT : Bpk. DR. Benyamin Fobia
- Ketua BPK. Kupang Tengah :Bpk. Pdt. O. Sam Koli
serta undangan lainnya, telah diadakan serah terima kepada Ny. Pdt. J. C. de Fretes-Lulan, S.Th sebagai pendeta definitif.
Harapan Jemaat Benyamin terhadap Pdt. J. C. de Fretes-Lulan, S.Th yang disampaikan oleh penanggungjawab Bpk. Stefanus B. Adoe antara lain:
1. Bahwa pelayanan dan perkunjungan pastoral agar dilaksanakan secara rutin tanpa pandang bulu.
2. Memperhatikan gedung permanent yang sedang dibangun agar selesai tepat waktu.
3. Bahwa kondisi kebersamaan, kekeluargaan serta semangat kegotongroyongan yang telah terbina agar tetap dipelihara dan perlu ditingkatkan.
b. Penempatan Pendeta.
1. Sesuai surat Keputusan MSH nomor: 001a/SK/MS-GMIT/I/1997 tanggal 07 Januari 1997, tentang penempatan Pdt. J. C. de Fretes-Lulan, S.Th di Jemaat Benyamin (Pendeta I) tanggal 19 Desember 1996 s/d 17 April 2002. (lampiran 22)
2. Selanjutnya sesuai Surat Keputusan MSH GMIT no. 186/SK/MS-GMIT/I/2002 tanggal 26 April 2002 tentang penempatan Pdt. I. D. E. Ivonne Messah, S.Th sebagai Pendeta Jemaat Benyamin  tanggal 01 Mei 2002 hingga kini 21 Agustus 2004 (lampiran 23)

4. HARTA MILIK INVENTARIS GEREJA
a. Harta milik inventaris gereja saat serah terima berupa
1. Tanah seluas 1200 m2 (sertifikat ditangan pemilik tanah)
2. Gedung darurat 25 x 7 m2
3. Inventaris (sesuai daftar)
4. Anggota Jemaat:
- Majelis Jemaat         : 24 orang
- Kepala Keluarga     : 187
- Jumlah Jiwa         : 909 orang
- Jumlah anggota sidi     : 409 orang

b. Perkembangan Jemaat hingga kini (21 Agustus 2004)
- Majelis Jemaat         : 60 orang
- Kepala Keluarga         : 272 KK
- Jumlah Jiwa             : 1.179 orang
- Rayonisasi             : 9
- Gedung permanent         : 1 buah (32 x 12 m2)
- Gedung darurat         : 1 buah (25 x 7 m2)
- Inventaris (sesuai daftar)    :
- Telpon             : 1 set
- Komputer             : 1 set
- Sound systim         : 1 set

IV. PEMBANGUNAN FISIK
1. Panitia Pembangunan
Ditengah-tengah kesibukan mengembangkan diri dibidang non fisik, Majelis Jemaat bersama seluruh Jemaat Benyamin mengangkat Panitia Pembangunan sesuai rapat Majelis Jemaat tanggal 28 Juli 1995 dengan komposisi sebagai berikut:
a. Pelindung
:
1. Kepala Desa Oebufu
2. Majelis Jemaat Benyamin Oebufu
b. Penasehat
:
1. Bpk. DRS. D. J. Kallau, MS
2. Bpk. DRS. D. A. Banunaek
3. Bpk. DRS. Gunawan
4. Bpk. O. Dethan
c. Pelaksana
:

Ketua
:
Bpk. DRS. J. N. Kallau, MS
Wakil Ketua
:
1. Bpk. Noldy Koli, BsC
2. Bpk. P. Mauboy
Sekretaris
:
1. Bpk. Lukas Olang
2. Bpk. Ibrahim Finit
Bendahara
:
1. Ny. A. Nuban-Henuk
2. Ny. Jean Koli-Mone
Anggota
:
1. Bpk. R. Nuban
2. Bpk. J. J. Fora
3. Ny. E. M. Olang-Lola
4. Bpk. Drs. S. H. Nitbani
Seksi-seksi
:

1. Perencana/Pengawasan
:
Bpk. D. Manafe, Frans Henuk & O. Lalang
2. Usaha dana
:
Bpk. Ch. Nope, Y. Olang, Heny Leoanak, Yorim Doki, John Banoet, Nurce Sombu
3. Pengadaan bahan/transport
:
Bpk. F. Neolaka, Okto Banoet
4. Penggerak massa
:
Bpk. H. Nuban, Yunias Mooy, G. Sombu, Zaka Anin.
5. Humas/Dokumentasi
:
Bpk. Z. Adoe, Yes Lakapu
6. Penghubung dan konsumsi
:
Ny. W. Banoet-N,
Ny. Dj. Nope
Ny. R. Munah-Dethan
Ny. A. Sudiana
Ny. E. Pasumain
Ny. N. Hunam-A
Ny. E. Lalang-L

2. Peletakan Batu Pertama

Gedung kebaktian permanent berukuran (32 x 12 m2) melalui suatu kebaktian khusus yng dipimpin oleh Bpk. Pdt. I. Lakamal, MA, maka pada tanggal 31 Oktober 1995 bertepatan dengan HUT GMIT yang ke-48 serta HUT Reformasi telah dilaksanakan peletakan batu pertama.
Peletakan batu pertama oleh:
1. Bpk. Pdt. I. Lakamal, MA
2. Bpk. Pdt. N. L. Kalle, S.Th (alm)
3. Bpk. M. B. Leoanak (alm)
Rencana anggaran untuk pembangunan gedung tersebut lebih kurang Rp. 375.000.000,- (tiga ratus tujuh puluh lima juta rupiah).
Upaya pengumpulan dana oleh Panitia Pembangunan melalui
- Perpuluhan/persembahan khusus jemaat
- Poalela
- Lelang lagu dan natura
- Rantang berjalan
- Kupon berhadiah
- Pihak luar yang tidak mengikat
Gedung kebaktian yang dimulai 31 Oktober 1995 diharapkan selesai/rampung dalam waktu + 3 tahun.

3.  Pengresmian / Penthabisan.
Bpk. M. B. Leoanak dan Bpk. Dan Koanak selalu/senantiasa mengawasi jalannya pembangunan gedung gereja mulai dari peletakan batu pertama hingga pada saat pengresmiannya. Inilah Komitmen Bpk. M B. Leoanak sejak 18 April 1994 dimana setelah ibadah syukur saat itu,beliau mengatakan bahwa tanah yang saya berikan agar segera dibagun dan saya menunggu sampai pengresmiannya.
Ungkapan beliau terpenuhi oleh karena pada saat pengresmian, beliau mendapat penghargaan menerima kunci, membuka pintu gereja dan mempersilahkan Bpk. Wali Kota dan Ibu serta para undangan masuk sedangkan beliau tidak dapat masuk karena kondisi kurang sehat. Beliau meminta bantuan untuk mengantarnya pulang ke rumah. Upacara/kebaktian pengresmian beliau tidak dapat hadir dan pada tanggal 02 Januari 2002 Tuhan berkenan memanggil kembali hambanya (Lukas 2:29) sekarang Tuhan biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera sesuai dengan firman-Mu (pujian Simeon).
Bangunan yang semula direncanakan + 3 tahun akhirnya molor hingga 6 tahun lebih. Perkiraan dana + Rp. 375.000.000,- membengkak menjadi Rp. 401.466.900,- akhirnya melalui banyak pergumulan dan perjuangan gedung gereja tersebut dapat diresmikan pada tanggal, 22 Desember 2001 oleh Wali Kota Kupang, Bpk. S. K. Lerik dan Ibu serta kebaktian penthabisan dipimpin oleh MSH GMIT yang diwakili oleh Bpk. Pdt. M. J. Karmany, S.Th, jabatan wakil Sekum MSH GMIT.

V. PENUTUP

Demikian perjalanan sejarah lahir dan bertumbuhnya Jemaat Benyamin sejak 16 April 1994 hingga kini 21 Agustus 2004.
Goresan sejarah ini diramu dan dirampung dari berbagai sumber tertulis berupa arsip Majelis serta tuturan cerita para tokoh pendiri jemaat.
Kiranya Jemaat Benyamin selalu dibimbing dan diberkati Tuhan dalam panggilan tugas mengembangkan Jemaat sebagai basis pelayanan GMIT.